Rabu, 08 Januari 2014

Untukmu Sahabatku

Muslimin Muhtar 
 <musliminmuhtar@yahoo.com>
 
Langit merona akibat ulah benderangnya surya
Tekanan angin menyebabkan gugurnya para daun dari singgasananya
Masih pagi, masih tercium aroma basah jejak hujan semalam
Tapi jiwa-jiwa itu masih tunduk, diam, dan terpaku.

Bukan terpesona tapi tengah meredam lara
Baginya seakan spektrum pelangi tidak pernah tertoreh di serambi langit
Baginya dunia ibarat papan catur yang dominan hitam dan putih.

Hey, kamu dan anda. Wahai orang yang tengah bersedih.
Menurutmu hidup ini tidak ada manusia lain didalamnya selain kalian?
Lalu aku? bukankah kita berpayung di tetes hujan yang sama selama ini?
Kamu tidak pernah sesendiri ini, aku hanya ingin memberi tahu itu.

Jangan belajar menjadi mentari yang selalu terlihat tangguh
Jangan belajar menjadi elang yang selalu gesit mencengkram mangsa
Jangan belajar menjadi lebah yang selalu menebar manfaat setiap hari.

Belajarlah menjadi dirimu tanpa adanya proyeksi lain
Belajarlah berdifraksi di setiap permasalahan yang ada, berbeloklah.

Lalu bangkitlah melawan angin, belajar seperti layang-layang yang mengangkasa
Karena kamu memang tidak pernah sendiri,
Ada aku disampingmu,

Seperti hembusan angin yang bisa kamu rasakan selalu

Melihat Geliat Sastra di Kalimantan Barat

  Oleh Hendy, Pontianak Post, (07/01/2014)

Gerakan sastra di Kalimantan Barat sampai sekarang belum terdengar di kancah nasional. Hal tersebut bisa jadi disebabkan karena selain kurangnya publikasi karya sastrawan-sastrawan Kalimantan Barat di media nasional, juga karena intensitas komunitas sastra yang belum terlalu maksimal.
Demikian disampaikan penulis Bernard Batubara dalam kegiatan baca puisi bersama dan diskusi sastra yang diselenggarakan di Rumah Mimpi, Taman Gitananda, Senin (6/1) malam.
Bernard Batubara merupakan penulis muda kelahiran Kalimantan Barat yang merintis karir kepenulisannya di Yogyakarta. Di jagat kesusastraan nasional sendiri, Bernard merupakan salah satu penulis yang diperhitungkan. Karya-karyanya tak hanya kerap mewarnai media nasional yang dianggap "barometer" sastra Indonesia seperti Kompas, Koran Tempo, Suara Merdeka, dan lain-lain, tetapi buku-buku sastranya juga sedang digandrungi pembaca sastra Indonesia, bahkan salah satu novelnya berjudul Kata Hati diproduksi dalam bentuk film dan tayang di seluruh bioskop di Indonesia. 
Kepulangan Bernard ke Pontianak kemarin malamlah yang menjadi alasan berkumpulnya para penggiat sastra di kota ini dan menggelar kegiatan di Rumah Mimpi.
Dalam diskusi yang berlangsung selama kurang lebih dua jam tersebut, Bernard banyak bercerita tentang minimnya pengetahuannya pribadi mengenai geliat sastra di Pontianak. Kemudian dia menjelaskan tentang fenomena munculnya sastrawan-sastrawan dari daerah yang selama ini tidak diperhitungkan dalam kancah nasional seperti di wilayah Timur Indonesia. “Teman-teman sastrawan di Flores saat ini karya-karyanya sering muncul di media nasional. Selain itu mereka kerap diundang dalam pertemuan sastra bertaraf nasional bahkan internasional,” ujar Bernard.
Penulis novel Cinta dengan Titik itu menilai kemunculan sastrawan-sastrawan muda dari wilayah timur Indonesia ini tidak terjadi dengan sendirinya. Akan tetapi melalui proses panjang dengan merawat komunitas, mendokumentasikan karya dan berbagai kegiatan sastra lewat jurnal secara rutin, serta menyebarkan jurnal tersebut ke berbagai event sastra di seluruh Indonesia. “Atas landasan tersebutlah, saya kemudian mendirikan kelas menulis dengan nama Kopdar Fiksi di Kota Pontianak,” katanya.
Kopdar Fiksi sendiri diharapkan mampu menjadi harapan baru bermunculannya karya-karya penulis muda dari Kalimantan Barat yang tidak muncul secara instan. Pada saatnya nanti, jika karya-karya tersebut benar-benar matang, mampu bersaing dengan karya-karya penulis Indonesia lainnya di media nasional.
Sementara itu, peneliti dari Balai Bahasa, Khairul Fuad, mengatakan bahwa pada dasarnya sejak tahun 50-an di Kalimantan Barat sudah bermunculan komunitasi-komunitas sastra. Bahkan pada massanya sempat memunculkan sastrawan-sastrawan lokal yang menasional. Intensitas sastra di Kalbar sendiri terus berlanjut hingga awal tahun 2000-an. “Hingga akhirnya, sepeninggal kritikus sastra Kalimantan Barat Odhys, perkembangan sastra di daerah ini berangsur-angsur surut bahkan bisa dikatakan mati suri,” ungkapnya.
Barulah sekitar tahun 2005 harapan baru bagi sastra Kalimantan Barat kembali hadir dengan munculnya Pay Jarot Sujarwo, Amrin Zuraidi Rawansyah, dan Yophi Tiara lewat buku kumpulan cerpen mereka yang berjudul Nol Derajat (Pena Khatulistiwa, 2005). 
Menurut Khairul Fuad, delapan tahun setelah kehadiran Pay Jarot Sujarwo CS tersebut, komunitas sastra dan geliatnya semakin mewarnai jagat kesusastraan di Kalbar. “Hanya saja intensitas serta etika berkomunitas memang masih dirasa belum maksimal. Padahal potensi para penulis sastra di daerah ini cukup besar,” tuturnya.
Di bagian akhir diskusi, Bernard Batubara bersama para hadirin menyepakati tentang perlunya komitmen merawat komunitas ini serta diperlukan adanya upaya untuk mempublikasikannya ke kancah nasional secara terus menerus. Komitmen ini akan ditandai dengan portal di internet sebagai ruang diskusi sastra terbuka khususnya di Kalimantan Barat dengan nama Kalbar Menulis.
Kegiatan yang berlangsung sederhana ini dihadiri oleh para penggiat sastra seperti Musfeptial, Khairul Fuad, Nano Basuki, Pay Jarot Sujarwo, Ninda, Ilham Setiawan, serta para member dari kelas menulis Kopdar Fiksi bentukan Bernard Batubara. ***

Selasa, 07 Januari 2014

Sastawan di Imaji Kalbar





Imaji Budaya, Imaji Sosial, Imaji Cinta. Itulah bagian imaji yang ada dalam buku Kalbar Berimajinasi, sebuah karya luar biasa dari 25 penulis sastrawan di Kalimatan Barat.

Beragam sudut pandang disajikan dengan tema yang sama, lokalitas Kalimantan barat. Dalam cerita ini berbagai ciri dari tiap daerah di Kalimantan Barat ditunjukkan. Keeksotikan panorama daerah-daerah di Kalimantan Barat ikut menjadi daya tarik dalam cerita. Geografi yang diambil oleh penulis menjadi ciri tersendiri dalam cerita yang ditampilkan.

Imaji budaya yang menjadi bagian imaji pertama dalam urutan buku ini. Imaji ini memberikan nuansa yang berbeda. Sesuatu yang tidak banyak diketahui oleh masayarkat Kalbar sendiri. Budaya-budaya yang sudah hampir hilang, budaya yang ada tapi tidak banyak yang mengetahuinya. Dari cerita dibagian Imaji budaya inilah, budaya itu diperkenalkan lagi, dilestrarikan lagi. Lagi dalam cerita, dalam sebuah karya sastra.

Saifun Arif Kojeh dengan tulisannya yang berjudul Antu Bengkek. Jika orang Indonesia umumnya, mungkin hanya mengetahui hantu seperti Kuntilanak, Pocong, Genderuwo, Wewe Gombel, Suster Ngesot, atau hantu Ratu Goyang Kerawang yang sudah mem-booming dalam layar lebar, tetapi Antu Bengkek yang diceritakan oleh penulis dari Ketepang ini adalah hantu yang tidak banyak orang mengetahuinya. Hantu yang sekiranya hanya di lokal yang disebutkan dalam cerita yang tahu.

Cerita berlatar budaya dengan unsur horror. Suatu yang berbeda. Cerita ini menunjukkan bahwa setiap daerah mempunyai banyak cerita, termasuk dalam cerita hantu.

Begitu pula imaji-imaji budaya lainnnya;  1) Dedy Ari Asfar yang menulis tentang Kearifan Tradisional Iban dengan tokoh Boni, seorang pemuda Iban yang memegang teguh filosofi Iban “Agik Idup Agik Ngelaban” filosofi ini jugalah yang menjadi judul dalam cerita. 2) Riani Kasih dengan ceritanya berjudul Balada Bala tentang bala yang datang karena hutan ditebang karena emas ditambang. Cerita ini juga memiliki pesan yang sama dengan cerita Boni yakni; keserakahan manusia yang tidak memperhatikan alam hingga mendatangkan bala. 3) Cerita tentang bala juga menjadi pilihan untuk Zani El Kayong berjudul Menantang Bala. Dan imajiner Budaya lainnya 4) Mahabbatusy Syuaraa berjudul Mantra di Pelosok Kampung tentang sekelompok mahasiswa yang meneliti Sastra Mantra di daerah Sambas. 5) Dukun Tuba yang ditulis oleh E.Widiantoro. 6) Parit Lintang oleh Ffate’, 7) Sampuk untuk Banin yang ditulis oleh Yusriadi.

Keunikan dari buku yang diterbitkan oleh Stain Press ini tidak hanya ada pada segi budayanya saja. Tak kalah dengan cerita dalam Imaji Sosial. Tentang beragam kehidupan di masyarakat ditunjukkan oleh para penulis yang juga berasal dari berbagai daerah. Suatu kehidupan lain yang mungkin pernah dijumpai, namun menjadi menarik karena diceritakan dalam bentuk dulisan. Dari inilah gambaran kehidupan membuat kita menjadi lebih peka mengenai kehidupan.  1) Hardianti dengan tulisannya berjudul Politikus Warung Kopi. Warung kopi yang beda dengan Warkop lainnya karena masyarakat di tepian Kapuas ini membicarakan banyak tentang masalah di negeri hal dengan “Kepala dingin dan segelas kopi” bukan dengan “Adu mulut, adu otot, dan juga adu kepentingan”. 2) Haries Pribady berkisah tentang bagaimana senangnya orang Brunei Darussalam menikmati kuliner khas Pontianak berjudul Kopi Susuku. Dan cerita lainnya di imaji social ini 3) Kamar 9B ditulis oleh Pradono, 4) Titik dan Air Mata cerpen dari Wyaz Ibn Sinentang, 4) Masih Cerita oleh Utin Erliana, 5) Omy Bintun Nahl menulis Senyum Ini untuk Ayah, 5) Nasi Ubi Uwan Misra.

Begitu pula dengan imaji cinta. Kisah cinta yang memang tidak ada habis-habisnya menjadi daya tarik tersendiri. Namun, di bagian Imaji Cinta,  kisah cinta itu diwarnai dengan latar lokal yang sangat khas, tentang pertemuan cinta pada diri beragam etnik. Tentang cinta dan orang tua. Cinta pada Ilahi, Cinta terhalang zaman. Keragaman ini menjadikan cerita cinta lebih kaya.  Imaji-imaji cinta ini ditulis oleh; 1) Abdul Hamid berjudul Perempuan Berkalung Salib, 2) Nurlia berjudul Antara Cintanya dan Cinta-Nya, 3) Aku Bukan Siti Nurbaya oleh Marsita Riandini, 4) Cinta Su Ling oleh Hikmah, 5)  Reni Yusnita dengan ceritanya cintanya berjudul Surat untukmu Sayang, 6) Siti Hanina berkisah cinta dengan Cinta Pindah Rumah, 7) Abdul Rani menunjuk Kapuas sebagai saksi cintanya dalam cerita berjudul Puisi Cinta Kapuas, 8) Tentang cinta sejati yang disetia dalam hati ditulis oleh Mardian Sagiant dengan cerita Perkamen  Mei, 9) Cerita Cinta yang sulit ditebak berasal dari Danau Sentarum ditulis oleh Fitriani berjudul Pandurata,  dan 10) Redi Yosianto berjudul Kawin, 11) Bermula dari Batu Layang oleh Holi Hamidin dan 12) oleh Farninda Aditya berjudul Menggaet Keponakan Ko A Tong.

Kalbar Berimajinasi tidak hanya mempertemukan beragam Imaji di dalamnya. Namun berbagai daerah menyatu, penulis bertemu, dan kekuatan sastra Kalimantan Barat semakin erat. 


Desain sampul: Ibn Phani Busya

Tentang Kalbar Menulis

Blog ini merupakan ruang informasi tentang penulis di Kalimantan Barat. Karya-karya penulis, tentang penulis, kegiatan penulis, ulasan yang dibuat oleh penulis, dan apa pun yang berhubungan dengan dunia kepenulisan di Kalimantan Barat akan disampaikan melalui blog ini. Kami berharap blog ini dapat menjadi salah satu tempat singgah para pencari informasi tentang dunia kepenulisan di Kalimantan Barat.

Publikasi tentang penulisan Kalbar tidak hanya berasal dari kami. Siapa pun yang ingin menulis, akan kami terima. Silakan kirim tulisan teman-teman di kalbarmenulis@gmail.com.

Apapun; cerpen, puisi, ulasan, tokoh, berita kegiatan, resensi buku, essai, video, dan lainya.

Blog ini masih dalam masa perkembangan. Kami juga membutuhkan saran dan kritik dari pembaca. Kami sangat senang pula, apabila ada yang ingin berkontribusi untuk mempublikasi dan mendesain blog Kalbar Menulis.


Salam, Kalbar Menulis